Guru adalah seorang petani.

 
Guru yang baik adalah seorang petani. 
Almarhum Ustadz Ali Sarkowi, berkata bahwa agar murid tidak dianggap sebagai gelas yang kosong, yang kemudian kita isi dengan air.
Gelas yang terus menerus diisi dengan air pada akhirnya akan tumpah, dan menjadi kosong lagi.

Maka, anggaplah murid sebagai pohon. Pohon itu akan tumbuh terus menerus. Setelah tiba masa panen, ia akan berbuah. Buahnya akan bermanfaat bagi siapa yang menginginkannya. Buah itu akan jatuh ke tanah, menciptakan bibit-bibit pohon baru. Demikian seterusnya.

Kita, guru, adalah petani pohon itu. Tugas kita menyemaikan
pohon itu hingga berbuah, dan tumbuh menjadi pohon yang mandiri.
Tanaman, pohon, yang tidak pernah digubris oleh petaninya akan mati. Kalaulah ia tumbuh, pertumbuhannya akan terganggu. Akan dijadikan sasaran empuk hama-hama kehidupan. Ia tidak akan berbuah, hanya akan menjadi ilalang kering yang menjadi sampah berikutnya.

Perhatian guru terhadap murid, dalam hal sekecil apapun, adalah besar pengaruhnya. Berangkat dari keinginan tulus seorang guru yang ingin menjadikan muridnya manusia sempurna, yang bisa menggunakan seluruh potensi kemanusiaannya. Itulah guru yang baik, seorang petani yang menanam pohon-pohon kehidupan.
dan Guru seharusnya tidak memberikan ikan kepada muridnyanya, melainkan kail, untuk mencari ikannya sendiri
carilah ilmu dari buaian hingga liang lahat
tampaknya dewasa ini diabaikan oleh para pelajar pada umumnya. Istilah pendidikan yang salah kaprah disamakan dengan pengajaran, semata pertemuan guru dan murid di kelas pada jam-jam tertentu, telah melahirkan hasil pendidikan yang berorientasi pada ijazah. Sehingga, selepas mereka dari akademi pendidikan (pengajaran, pen.) mereka telah terlepas dari kewajiban mencari ilmu. Alangkah disayangkan, pembelajaran yang seharusnya bisa dinikmati seumur hidup, dikekang menjadi kewajiban 9-12 tahun semata.

Komentar